- MELAKUKAN PENJAJAGAN AWAL DI LAPANGAN UNTUK MENCARI DAN MENEMUKAN FENOMENA YANG UNIK
Dalam penelitian kualitatif, penelitian tidak harus berangkat dari masalah, karena dengan malakukan penjajagan awal di lokasi penelitian (places), peneliti kemungkinan akan menemukan beberapa fenomena kegiatan (activities) yang unik yang dilakukan oleh orang-orang (actors) dalam lokasi tersebut. Dari sini berarti peneliti menemukan beberapa gejala sosial yang bersifat holistik pada situasi sosial yang bisa diteliti.
- MENJELASKAN ALASAN KELAYAKAN PENELITIAN ”MENGAPA FENOMENA TERSEBUT DIKATAKAN UNIK DAN LAYAK UNTUK DITELITI”.
Peneliti memberikan alasan secara subyektif ”mengapa fenomena tersebut dikatakan unik dan layak untuk diteliti”)
- DIALOG TEORITIK
Peneliti harus menjelaskan secara ilmiah dengan menunjukkan sumber referensi (minimal 10 referensi yang valid terkait dengan fenomena yang akan diteliti) Ini penting dilakukan, karena dalam penelitian kualitatif (kl), penelitian bertolak dari fenomena, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas dan berakhir dengan suatu teori.
- JUDUL PENELITIAN
hadir
BalasHapusJudul Kelompol 3
BalasHapusPeranan KMI dalam peningkatan belajar malam bersama(muajah)terhadap prestasi belajar siswa kelas 1 intensif Pondok Moderen Darussalam Gontor Ponorogo
judul kelompok V
BalasHapuskompetensi guru pendidikan agama islam dalam pelaksanaan pembelajaran menurut undang-undang no. 14 thn. 2005 tentang guru dan dosen di smp negeri 1 jetis ponorogo
judul kelompok 4
BalasHapusPERAN PRAMUKA DALAM MENINGKATKAN AKHLAK SANTRI PONDOK MODERN DARUSSSALAM GONTOR
Proses menemukan judul (kl 2)
BalasHapuskelompok 3 (Deli Amarta, Abdul Syukur. Syamsul Bahri)
1. MELAKUKAN PENJAJAGAN AWAL DI LAPANGAN UNTUK MENCARI DAN MENEMUKAN FENOMENA YANG UNIK.
Suasasan belajar malam bersama (muajah) yang di ikuti seluruh santri setelah shalat isya' berjamaah dan keaktifan wali kelas dalam membimbing suasana belajar malam tersebut.
2. MENJELASKAN ALASAN KELAYAKAN PENELITIAN ”MENGAPA FENOMENA TERSEBUT DIKATAKAN UNIK DAN LAYAK UNTUK DITELITI.
Jaman sekarang masih banyak ditemukan siswa atau siswa kurang berminat dalam belajar bersama, padahal belajar malam bersama dengan bimbingan wali kelas sangat efektif, maka belajar bersama dengan bimbingan wali kelas perlu ditingkatkan.
3. DIALOG TEORITIK
• Menurut W.S.Winkel dalam bukunya, Psikologi Pengajaran yang di terbitkan oleh PT. Grasindo Jakarta 1996 hal 53, "Belajar diperlukan sebagai usaha untuk mengaktivitaskan mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan dan nilai/sikap".
• Menurut Drs. A. Ma'ruf Asrori dalam bukunya, Etika Belajar Bagi Penuntut Ilmu yang diterbitkan oleh Al-Miftah Surabaya 1996 hal. 22. dikatan "Belajar yang baik dan benar adalah belajar dengan bimbingan guru yang alim".
• Menurut Dr.Hamzah B. Uno, M.Pd. dalam bukunya, Perencanaan Pembelajaran yang diterbitkan oleh PT. Bumi Aksara Jakarta, 2006. hal 4. ia mengatakan "Untuk menunjang proses belajar bagi seseorang guru hendaknya memprthatikan terori yang telah dikembangkan mengenai belajar misalnya, teori behavioristik, kognitif, afektif dan psikomotorik".
• Menurut Prof. Drs. H. Burhanuddin Salam, M.M. dalam bukunya, Cara Belajar Yang Sukses di Perguruan Tinggi yang di terbitkan oleh PT. Rineka Cipta, Jakarta. 2004, hal 3. mengatakan "Belajar adalah suatu proses perubahan prilaku, yang mengandung arti sangat luas meliputi pengetahuan kemampuan berfikir, skil, sikap, minat dan semacamnya.
4. JUDUL PENELITIAN
Peran KMI dalam peningkatan belajar malam bersama (mu'ajah) terhadap prestasi belajar siswa kelas 1 intensif PM. Darussalam Gontor Ponorogo Tahun Ajaran 2008-2009.
Bambang Aprianto,Andhi Riduan,medianto.yahya ardianto,samsuddin,Fitra Huda.Edi Yahya,Hasyir Syarif hadir
BalasHapuskelompok XI (iskandar Zulkarnain & Hasbi Ashshiddiqi)
BalasHapus1.MENJELASKAN PENJAJAGAN AWAL DI LAPANGAN UNTUK MENCATAT DAN MENEMUKAN FENOMENA YANG UNIK.
Mengungkap bagaimana aktualisasi Perguruan Tinggi Pesantren Pertama di Indonesia (Institut Studi Islam Darussalam Gontor) dalam mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan tiga ranah pendidikan yang terdiri dari Kognitif, Afektif dan Psikomotor.
Karena kebanyakan perguruan tinggi hanya memprioritaskan aspek kognitif mahasiswanya saja, sedangkan aspek Afektif dan Psikomotornya diabaikan dan dipandang sebelah mata.
2.MENJELASKAN ALASAN KELAYAKAN PENELITIAN “MENGAPA FENOMENA TERSEBUT DIKATAKAN UNIK DAN LAYAK UNTUK DITELITI”
Pembahasan mengenai hal ini amatlah unik dan layak, karena Institut Studi Islam Darussalam sebagai perguruan tinggi pesantren pertama di Indonesia, mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk bertempat tinggal diasrama.
Selain dari pada itu sebagian besar fungsionaris Institut juga bertempat tinggal di dalam kampus, dari mulai Rektor I, Purek II dan ke III, ditambah lagi beberapa guru senior Pondok Modern Darussalam Gontor.
Oleh karenanya dengan kondisi yang strategis seperti ini, kita akan melihat bagaimanakah upaya Institut Studi Islam Darussalam dalam mengaktualisasikan tiga ranah pendidikan sekaligus ( Kognitif, afektif dan Psikomotor) ?? sehingga pada akhirnya proses pendidikan dapat sampai pada tujuan yang diinginkan
3.DIALOG TEORITIK
Para sarjana filosof pendidikan dewasa ini berpendapat bahwa satu-satunya tujuan pendidikan adalah perkembangan manusia dari seluruh aspek: intelektual (Kognitif), Fisik (Psikomotor) dan Psikis (Afektif)
Tujuan pendidikan yaitu gabungan antara pengetahuan (Kognitif), keterampilan (psikomitor) serta pola-pola tingkah laku, sikap, nilai-nilai dan kebiasaan (Afektif) yang ada pada diri manusia
Para pendidik berpendapat bahwa tanggung jawab yang terpenting dalam pendidikan yaitu:
1.Tanggung jawab pendidikan Iman
2.Tanggung jawab pendidikan akhlak
3.Tanggung jawab pendidikan fisik
4.Tanggung jawab pendidikan intelektual
5.Tanggung jawab pendidikan psikis
6.Tanggung jawab pendidikan sosial
Ada bermacam-macam nilai yang menjadi acuan penetapan tujuan pendidikan dan membimbing proses pendidikan, ada nilai materil, nilai social, intelektual, estetis dan ada pula nilai religious dan spiritual
Pokok yang paling dasar dalam pendidikan adalah menyusun kepribadian, sehingga manusia bisa ikut serta dalam masyarakat secara produktif, tidak menjadi beban masyarakat dan tidak menyebabkan kerugian
Kehidupan individu itu tidak dapat terlepas dari lingkungan. Karena itu hubungan stimulus dan respon individu ditentukan oleh kondisi kognitif dan motorik dalam hubungannya dengan masalah belajar
Al-Ghazali berpendapat bahwa akhlak bukan sekedar perbuatan, bukan pula sekedar kemampuan berbuat, juga bukan pengetahuan. Akan tetapi, akhlak harus menggabungkan dirinya dengan situasi jiwa yang siap memunculkan perbuatan-perbuatan, dan situasi itu harus melekat sedemikian rupa sehingga perbuatan yang muncul darinya tidak bersifat sesaat, melainkan menjadi kebiasan dalam kehidupan sehari-hari, dari sinilah pendidikan berperan penting
Pendidikan merupakan upaya mulia dalam rangka menghilangkan kebodohan dan memanusiakan manusia. Sebagaimana yang dikatakan oleh imanuel kant bahwa manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan” man become man through education only”
Pendidikan menurut Al-Ghozali yaitu: “Proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran.”
Tujuan pendidikan secara teoritis dibedakan menjadi: tujuan keagamaan (al-Ghordu ad-Diny) dan tujuan keduniaan (al-Ghordhu ad-Dunyawi) seperti yang diingatkan Al-Ghozali. Hal tersebut dimaksudkan membentuk pribadi khalifah fil Ardh yang dapat mensinergikan fitrah, roh, kemauan dan akal. Menurut Abdurrahman an-Nahlawy, ada empat tujuan umum dalam pendidikan Islam yaitu; akal, bakat asal (dasar), kekuatan dan potensi
4. JUDUL
Aktualisasi Konsep Tiga Ranah Pendidikan (Kognitif, Afektif dan Psikomotor) dalam Perguruan Tinggi (Studi Kasus di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor wilayah Siman)
Revisi
POLA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AQLIYAH, JISMIYAH DAN KHULUQIYAH DI PERGURUAN TINGGI (studi kasus di ISID Siman)
Daftar Pustaka
An-nahlawi,. Abdurrahman, Prinsip-Prinsip Dan Metode Pendidikan Islam, (Diponegoro: Bandung 1996)
langgulung,. Hasan, Manusia dan Pendidikan: satu analisis Psikologis dan Pendidikan (Pustaka Al-Husna: Jakarta 1986)
Ulwan, Abdullah Nashih, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam ( Asy-Syifa: Semarang 1981) Jilid 1
Aly, Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam, (Logos Wacana Ilmu: Ciputat 1999)
Santoso,. Slamet Iman, Pendidikan di Indonesia dari Masa Kemasa (CV Haji Masagung: Jakarta)
Ahmadi,. Abu dan Supriyono,Widodo Psikologi Belajar, (Rineka Cipta: Jakarta 2004)
Mukhlas,. Moh., “Aktualisasi Konsep Pendidikan Akhlak Al-Ghozali dalam Pembinaan Remaja” dalam Jurnal At-ta’dib Vol 3 No 1 Shofar 1428
Muamar,. Arfan, “Gagasan Pendidikan Ivan Illich” dalam Jurnal At-ta’dib Vol 3 No 2 Sya’ban 1428
Rusn,. Abidin Ibnu, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Pustaka Pelajar: Yogyakarta 1998)
Budiman,. Agus, “ Teknologi Pendidikan dan Dinamika Pendidikan Agama Islam ” dalam Jurnal At-ta’dib Vol 3 No 2 Sya’ban 1428
KELOMPOK XI
Iskandar zulkarnaen
M Hasbi ashshiddiqi
YAYAN TOTOK ISWANTO, RIZKAL FAJRI, AGUS WALUYO, RISTAM TAJUDDIN [ HADIR ]
BalasHapuskelompok 4
BalasHapus1. MELAKUKAN PENJAJAGAN AWAL DI LAPANGAN UNTUK MENCARI DAN MENEMUKAN FENOMENA YANG UNIK
Suasasan latihan pidato atau muhadlarah yang diadakan di pondok modern Darussalam gontor yaitu mulai hari kamis siang dalam berbahasa arab, kamis malam berbahasa Indonesia dan hari ahad malam berbahasa inggris. Berjalan dari tahun ketahun sangat efektif. Hal ini layak atau patut diteliti karena dari sinilah kemampuan anak dalam berbahasa sangat menonjol. Karena modal utama dalam berbahasa adalah berani salah, dan disinilahpara santri dituntut untuk berani berbicara dalam berbagai bahasa dihadapan teman-temannya.
2. MENJELASKAN ALASAN KELAYAKAN PENELITIAN ”MENGAPA FENOMENA TERSEBUT DIKATAKAN UNIK DAN LAYAK UNTUK DITELITI”
Dalam era globalisasi, perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat menjadikan jarak bukan suatu hambatan untuk mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dunia. Oleh karena itu bahasa asing selain bahasa Inggris menjadi penting. Dengan demikian semakin jelas bahwa penguasaan bahasa asing selain bahasa Inggris, dalam hal ini bahasa Arab, merupakan hal yang sangat mendesak. Banyak informasi ilmu pengetahuan baik di bidang teknik, ilmu-ilmu murni, ekonomi, psikologi maupun seni bersumber dari buku-buku berbahasa Arab. Selain itu bahasa Arab merupakan sarana komunikasi dalam pengembangan dunia pariwisata dan bisnis.
Melalui pembelajaran bahasa Arab dapat dikembangkan keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi lisan dan tulisan untuk memahami dan menyampaikan informasi, pikiran, dan perasaan. Dengan demikian mata pelajaran bahasa Arab diperlukan untuk pengembangan diri peserta didik agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkepribadian Indonesia, dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya serta siap mengambil bagian dalam pembangunan nasional.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka standar kompetensi dan kompetensi dasar ini dipersiapkan untuk pencapaian kompetensi awal (dasar) berbahasa Arab, yang mencakup empat aspek keterampilan bahasa yang saling terkait, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
3. DIALOG TEORITIK
Dari empat aspek diatas yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dam menulis maka kita bias menyimpulkan bahwa dalam latihan pidato / muhadharah akan terjadi 2interaksi yaitu berbicara dan mendengarkan sedangkan membaca anak dituntut membaca terlebih dahulu untuk membuat teks pidato dan akhirnya anak akan menulis. Jadi dalam hal ini keempat aspek itu berjalan beriringan dalam masing-masing anak atau santri. Dan dalam peranannya bahasa arab sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
1. Surat Yusuf ayat 12, terjemahannya sebagai berikut : “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”. Diterangkan dalam kitab tafsir Ibnu Katsier bahwa maksud ayat ini adalah Bahasa Arab merupakan bahasa yang memiliki arti yang paling mengesankan/elok, jelas, dalam, dan penuh perasaan yang timbul di pikiran seseorang. Oleh karena itu, Kitab yang paling mulia), (sudah sepantasnya) diwahyukan dalam bahasa yang paling mulia, kepada Nabi dan Rosul termulia, melalui perantaraan Malaikat termulia, di atas tanah paling mulia di permukaan bumi, dan permulaan pewahyuannya adalah di bulan termulia, Ramadhan. Oleh karena itu, Al-Quran merupakan Kitab yang sempurna dari segala aspek.
2. Surat Ad-Dukhaan ayat 58, terjemahannya sebagai berikut : “Sesungguhnya Kami mudahkan al-Qur'an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran”. Imam Ibnu Katsier menafsirkan ayat ini bahwa Allah telah mewahyukan Al-Quran secara mudah, terang, dan jelas, dalam bahasa Arab yang merupakan bahasa paling elok, jelas, dan indah dibandingkan seluruh bahasa yang ada.
Dari kedua ayat ini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa diturunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab adalah untuk dipelajari dan dipahami. Dan cara terbaik apa yang tersedia untuk melakukan kedua hal tersebut selain mempelajari bahasa yang dengannya Al-Quran diturunkan? Mempelajari Al-Quran melalui terjemahan tidaklah akan mampu membuka keseluruhan keindahan dan kedalaman makna Al-Quran. Dan bila penerjemahan yang bagus sudah mampu menyentuh hati maka dapat dibayangkan perasaan yang ditimbulkan oleh keindahan Al-Quran melalui bahasa Arab, yang dengannya Allah befirman kepada RosuluLlah Muhammad ShollaLahu ‘alayhi wa salam. Salah satu cerita termasyhur menyangkut hal ini tentu saja kisah keislaman Umar ibnu Khatab radhiyaLlahu’anhu. Pentingnya mempelajari bahasa Arab bahkan sudah mendapat perhatian khusus sejak era awal Islam. Dan kita tahu semua bahwa pada zaman itu Islam baru tersebar di jazirah Arab.
4. JUDUL PENELITIAN
PERANAN MUHADLARAH DALAM MENINGKATKAN KECAKAPAN BERBAHASA ARAB SANTRI KELAS 3 PONDOK MODERN GONTOR TAHUN AJARAN 2008-2009
REFERENSI
Menurut Dr.Hamzah B. Uno, M.Pd. dalam bukunya, Perencanaan Pembelajaran yang diterbitkan oleh PT. Bumi Aksara Jakarta, 2006. hal 4. ia mengatakan "Untuk menunjang proses belajar bagi seseorang guru hendaknya memprthatikan terori yang telah dikembangkan mengenai belajar misalnya, teori behavioristik, kognitif, afektif dan psikomotorik".
Menurut Prof. Drs. H. Burhanuddin Salam, M.M. dalam bukunya, Cara Belajar Yang Sukses di Perguruan Tinggi yang di terbitkan oleh PT. Rineka Cipta, Jakarta. 2004, hal 3. mengatakan "Belajar adalah suatu proses perubahan prilaku, yang mengandung arti sangat luas meliputi pengetahuan kemampuan berfikir, skil, sikap, minat dan semacamnya.
Diangkat dari Al Atsaru At Tarbawiyah Li Dirasati Al Lughah Al ‘Arabiyyah, karya Dr. Khalid bin Hamid Al Hazimi, dosen Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah. Majalah jami’ah Islamiyyah, edisi 125 Th. 1424 H. Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi 02/IX/1426H, Rubrik Baituna, hal. 05 - 08.
M. Luthfi al-Anshori (Mahasiswa Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Universitas al-Azhar Kairo, santri Afkâr Institute for Aufklarung (AIA) PCINU Mesir).
An-nahlawi,. Abdurrahman, Prinsip-Prinsip Dan Metode Pendidikan Islam, (Diponegoro: Bandung 1996)